INFO MEDIA Nasional, Jakarta – Suasana politik di Istana memanas ! Presiden Prabowo Subianto secara terang-terangan meluapkan kekesalannya terhadap sejumlah pengamat yang dinilai “tidak suka” melihat keberhasilan pemerintahannya. Prabowo bahkan menyebut sikap mereka sempit dan jauh dari nilai patriotik.
“Bukan Sikap Patriotik!”
Dalam Sidang Kabinet Paripurna (13/3), Presiden menanggapi pihak-pihak yang terus mendengungkan narasi bahwa ekonomi Indonesia sedang krisis. Prabowo menilai ada motivasi tertentu di balik kritik tersebut yang justru merasa “rugi” jika pemerintah sukses.
“Ada pengamat-pengamat yang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil… Menurut saya sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik,” tegas Presiden Prabowo.
Respons Menohok dari PDIP
Menanggapi niat Presiden untuk “menertibkan” para pengkritik, Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira melontarkan komentar pedas. Menurutnya, gaya kepemimpinan yang merasa bisa menertibkan siapa pun yang tidak sejalan adalah konsekuensi dari mandat yang diberikan rakyat.
“Ini risiko yang harus dialami rakyat yang telah memilih… Pak Prabowo mungkin merasa bisa melakukan apa saja yang tidak sejalan dengan pikirannya sehingga perlu menertibkan,” ujar Andreas (17/3/2026).
Harapan atau Sindiran?
Meski menyentil sikap Presiden, Andreas menegaskan bahwa PDIP justru ingin pemerintah berhasil—terutama dalam menyediakan lapangan kerja dan menjamin daya beli rakyat. Namun, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden jika tetap ingin melabeli pengkritik sebagai pihak yang “tidak suka”.
Dunia demokrasi kini bertanya-tanya: Apakah “penertiban” ini akan berujung pada pembungkaman kritik, ataukah sekadar upaya menjaga stabilitas nasional? Apakah pengamat wajib selalu “setuju” agar disebut patriotik? (Imn)








